Sebuah Apel

Ayah saya mempunyai sebuah buku tebal bersampul merah pada rak buku kami—maksudnya buku-buku yang menumpang di rak buku Eyang Kakung–di Surabaya.  Judulnya Ensiklopedi Orang Kudus. Disusun oleh Adolf Heuken, seorang padri Jerman.

Ensiklopedi Orang Kudus berisi cerita-cerita tentang kehidupan santo dan santa pelindung dalam ajaran Katolik. Santo Yosef, Santa Maria, Santa Anastasia dan lain-lain.

Sepulang kerja di surat kabar harian sore Surabaya Post, ayah suka membacakan ulang beberapa cerita yang termuat dalam buku itu. Yang paling sering saya dengar adalah cerita tentang seorang anak laki-laki. Ia senang bercakap-cakap dengan Kanak-Kanak Yesus. Namanya Herman Yosef.

Ia lahir di Koln, Jerman pada 1150. Herman Yosef bukan anak kalangan berkecukupan. Ayahnya hanyalah pembuat sepatu rumahan yang tidak setiap hari mendapat pesanan. Baju sekolah Herman Yosef hanya beberapa potong. Sepatu hanya sepasang. Makan tak bisa dibilang “cukup.”

Semasa kecil, Herman Yosef rajin mengikuti Misa pagi. Namun, tak seperti teman-teman yang lain, ia tak langsung berlari ke sekolah sesudah Misa selesai. Herman Yosef akan lebih dulu mengunjungi patung Ibu Maria menggendong Kanak-Kanak Yesus. Bersyukur sekaligus bercerita tentang hari, kesusahan, keinginannya.

Suatu hari, ayah Herman Yosef mendapat lebih banyak pesanan sepatu. Keluarga Herman Yosef bisa membeli buah-buahan yang langka tersaji di atas meja makan. Herman Yosef senang sekali. Ia mengambil sebuah apel dari meja makan, lalu dimasukkan ke dalam tas. Akhirnya bisa membawa bekal ke sekolah; sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.

Pagi itu, ia berjalan ke gereja sambil tersenyum manis.

Seperti biasa sesudah Misa selesai, ia singgah ke depan patung Ibu Maria dan Kanak-Kanak Yesus. Mengucap syukur. Lalu, ini yang selalu saya ingat betul dari cerita ayah, Herman Yosef memandangi Kanak-Kanak Yesus. “Kasihan, Yesus pasti belum makan,” katanya.

Ia lalu mengeluarkan bekalnya, mengulurkan tangan, hendak memberi apel kepada Kanak-Kanak Yesus. Uluran Herman Yosef kecil tak bisa sampai ke tangan Yesus. Hanya mampu menggapai kaki Ibu Maria. Ia sedih.

Tiba-tiba Ibu Maria membungkuk. Ia mengambil sebuah apel dari tangan Herman Yosef, kemudian memberikan kepada anaknya. Herman Yosef kembali tersenyum manis.

Dulu saat sampai di rumah dan tampak membawa plastik berisi buah-buahan, ayah saya suka berkata: “Papi bawa apel—atau pisang, mangga, jeruk (tergantung apa yang baru dibeli)—nya Herman Yosef.”

Tadi pagi saya sempat membaca lagi cerita tentang Herman Yosef. Namun, kali ini dari Sahabat Yesus: Kisah Hidup Santo-Santa 1 bukan Ensiklopedi Orang Kudus. Ternyata hati masih berdebar-debar. Seperti waktu kecil dulu.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s